Selasa, 08 Mei 2012

cerpen remaja islami : cinta pertama Ayra


Cinta Pertama Ayra

        Senja di kota Pekanbaru. Gemuruh langit begitu keras. Air-air rahmat itu turun membanjiri selokan-selokan di depan rumahku. Aku hanya terpaku melihat rintik-rintik hujan diluar rumahku. Aku merasa hujan tahu bagaimana perasaan ku sekarang ini. Perasaan yang begitu sakit ketika ditinggalkan orang yang paling aku cintai. Orang yang selalu bisa membuat aku tersenyum ketika mengingatnya. Orang yang selalu membuat aku cemburu akan prestasi-prestasi yang dicapainya sehingga aku termotivasi mengalahkannya. Ah…aku benci perasaan seperti ini, ingin rasanya aku mengubur dalam-dalam perasaan ini tapi aku tidak bisa. Apakah Tuhan begitu sempurna menciptakan dia sehingga tak ada sedikitpun kekurangan yang dapat ku lihat di dalam dirinya. Aku benar-benar bingung kemana pergi akal sehatku. Akal yang selalu ku gunakan menyanggah pernyataan orang-orang yang begitu terlena oleh  lima huruf tersebut. Lima huruf yang mampu melululantahkan isi bumi, lima huruf yang bisa membuat semua orang  saling menyayangi bahkan rela mengorbankan nyawanya demi lima huruf tersebut. Sekarang lima huruf tersebut hinggap di hatiku. Oh Cinta kenapa kau menghampiri hatiku dengan begitu dahsyat? Hati yang awalnya tenang sekarang mulai gelisah sejak kau datang. Oh Tuhan, apakah yang aku rasakan ini sebuah kesalahan?? Tolong aku tuhan untuk menghilangkan perasaan ini.
Aku ingin menjadi diriku yang dulu sebelum mengenal cinta. Cinta yang hanya ku rasakan dari-Mu. Cinta yang tak akan pernah mati dan luntur sekalipun. Cinta ini juga membuat aku tenang and enjoy  menjalani hidup. Tapi cinta yang kurasakan sekarang ini sungguh berbeda. Cinta yang membuat jantung ini berdebar-debar. Debaran yang  menggembirakan kadangkala debaran yang membuat dada ini sesak. Sesak yang menyakitkan.
♥♥♥
            Hari ini adalah minggu terakhir liburan semester bagi siswa SMA. Seminggu lagi  sekolah akan dimulai. Itu berarti aku harus bisa memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk mengungkapkan cintaku kepada Fahri, temanku waktu kecil. Aku merasakan getar-getar cinta itu ketika aku kelas lima sekolah dasar. Awalnya aku menganggap itu hanyalah cinta monyet tapi seiring berjalannya waktu. Perasaan cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Sampai saat ini cinta itu semakin membesar dan bertambah dalam. Ketika bertemu dengannya, jantungku selalu berdebar dan ada rasa sedih kalau sehari saja tidak melihatnya. Hingga hari yang kutunggu-tunggu datang juga. Bunga, pohon, kupu-kupu, dan bangku yang kami duduki ini menjadi bukti pernyataan cintaku kepada Fahri. 
“Fahri, ada yang ingin ku katakan padamu” kataku gugup
“Ada apa Ra?” jawab Fahri
“tapi kamu harus janji dulu kalau kamu tidak akan mentertawakan aku, bagaimana?”
“Ok Ayra. Memangnya mau ngomong apa, kok pakai janji segala?” ujar Fahri penasaran.
“Fahri, aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini kepadamu tapi aku takut kamu akan marah dan bahkan menjauh dariku tapi setelah aku pikir-pikir, akan sakit bila rasa ini terus ku simpan” ucapku dengan suara bergetar.
kok jadi serius begini?” Fahri dengan sabar mendengar kata-kataku. Kembali aku menarik nafas.
“Awalnya aku kira perasaan ini hanyalah perasaan kagum. Rasa kagum kepada orang yang memiliki kelebihan dari yang aku punya. Maka aku biarkan saja perasaan ini  berjalan dengan sendirinya. Tapi lama-kelamaan perasaan itu semakin jelas apalagi setelah kita sama-sama menginjak remaja. Mmm…..Fahri, Aku mencintaimu”
Aku berhenti sejenak dan memberanikan diri menatapnya. Dari wajahnya bisa kulihat keterkejutannya. Aku sangat yakin kalau dia tidak menyangka aku seberani ini. Kembali  kulanjutkan.  
“Fahri, aku tau kamu kaget. Tapi inilah yang kurasakan selama aku mengenalmu. Sekarang aku siap mendengar apapun yang menjadi pilihanmu” ucapku pasrah.
“Ayra, kamu tau? Aku sangat kagum dengan keberanianmu. Aku juga sangat berterima kasih atas kejujuranmu. Aku saja belum bisa melakukan seperti apa yang kamu lakukan sekarang ini.” Kata-kata Fahri membuat aku tertunduk malu. Tapi aku berpikir lagi, jangan-jangan ini salah satu cara dia buat menolak aku.
“ Jadi, akan sangat sulit bila…”
Kalimat Fahri terputus seiring dengan putusnya helaan napasku, serasa aku tidak bisa bernapas.
“bila aku tidak menerima cinta gadis seberani kamu” 
O M G (oh my god) ingin rasanya aku pingsan mendengar jawabannya padahal tadi aku sempat putus asa. Aku sungguh bahagia karena orang yang telah lama aku impikan bisa menjadi pangeran ku. Pangeran yang akan mengisi setiap ruang dihatiku. Aku bisa senyum puas sekarang karena perjuanganku tidak sia-sia.
♥♥♥
Indahnya sinar rembulan malam ini seolah-olah mengungkapkan isi hati ku yang sedang dilanda kasmaran. Kejadian tadi sore begitu berkesan dihatiku. Aku sungguh tidak menyangka kalau Fahri akan menerima cintaku. Senyum puas bisa kurasakan saat ini. Tiba-tiba aku merasakan rindu yang mendalam kepada Fahri. Rindu wajahnya yang selalu membuat aku nyaman melihatnya. Tapi apakah dia juga merasakan hal yang sama. Kalau dia merasakannya, dia pasti nelpon aku malam ini.
“bulan, sampaikan salam rinduku kepada Fahri “ Ujarku berharap kepada sang rembulan tiba-tiba hp ku berbunyi.
“Itu pasti dari Fahri, berarti dia merasakan juga” Kataku dalam hati sambil tersenyum.
“Assalamu’alaikum” jawabku
“Wa’alaikumsalam”balasnya
“Kenapa Bel?” tanyaku lemas
“Bagaimana misi nya? Berhasil?” ucap Bella
“Berhasil donk, Ayra..” ujarku sombong
“Berarti? Kalian sudah jadian. Selamat ya, moga hubungan kalian langgeng sampai kakek nenek. Hehehe…”
“Memang kami mau nikah apa? Huuu….
“Aminkan kek, mana tau kalian jodoh”
“Ok boss, amin…”
“Nah gitu donk, hehe…Oh ya, agar kebahagian kalian bisa juga aku rasakan bagaimana kalau aku ditraktir. hehe”
“maunya….Huuuu….tapi boleh juga. Awal masuk sekolah saja ya”
“Ok”
Ada kekecewaan dihatiku. kekecewaan ketika tau kalau yang menelpon bukan Fahri  melainkan Bella, teman sekelasku. Aku kembali menatap bulan sambil melamun. Tiba-tiba...
Tok…Tok…
Ketukan pintu menyadarkan aku dari lamunanku.
“ya, tunggu sebentar?” tanyaku
“Kakak dipanggil Ayah untuk makan malam”ujar Dhafi, adikku.
“ya Dek, tunggu bentar” ujarku segera membuka pintu
Aku baru sadar ternyata aku belum makan malam. Kok bisa aku tidak merasakan lapar, biasanya jam segini aku sudah mati kelaparan. Apa ini karena cinta? Tau ah…aku segera berjalan ke meja makan.
“Ayra, bagaimana sekolahmu?” Ayah bertanya disela saat dia makan
“baik Yah, memang ada apa Yah?” jawabku melanjutkan makan
“Setelah lulus nanti, kamu mengambil jurusan apa?”
“Rencananya Ayra mau ngambil pendidikan bahasa inggris di Padang, bagaimana menurut Ayah?”
“Bagus, cuma apa kamu nggak kepengen mengambil pendidikan dokter umum atau akademi kebidanan”
“Ayra merasa lebih mampu di jurusan bahasa inggris daripada pendidikan dokter atau sejenisnya. Ayah tau kan, kalau dari dulu Ayra memang suka bahasa Inggris.”
“kalau itu sudah menjadi pilihan kamu. Ayah setuju-setuju saja asal dikemudian hari kamu tidak menyesal”
“ya Ayah, Ayra paham”
Dikamar, kata-kata Ayah kembali terngiang ditelingaku. Tapi sejak aku tau kalau Fahri sangat menyukai bahasa inggris, aku pun menyukai bahasa inggris. Rasa kagumku kepadanya  membuat aku menyukai apapun yang dia sukai dan aku pun termotivasi untuk menandingi semua kelebihannya. Aku yakin aku tidak akan menyesal. Apalagi sekarang Fahri telah menjadi milikku. Senyumku mengembang mengingat kejadian tadi sore. Malam ini aku sulit memejamkan mata karena perasaan bahagia ini susah membuat aku tertidur. Aku berusaha memejamkan mata. Akhirnya aku terlelap dengan mendekap bantal pink kesayanganku yang berbentuk gambar hati.
♥♥♥
Matahari merekah dari ufuk timur. Sinarnya begitu indah. Tak pernah keindahan ini aku lewatkan. Aku selalu setia menunggu matahari terbit dan memancarkan sinar yang begitu luar biasa indahnya. Seakan cahaya itu memberikan motivasi baru kepadaku. Aku teringat Fahri. Segera aku mengambil hp dan menekan nomornya. Ternyata diangkat.
“Hallo” katanya dengan suara malas
Assalamu’alaikum
“Eh, wa’alaikumsalam” balasnya sedikit gelagapan
“Kamu baru bangun tidur? Fahri cepat buka jendela kamarmu” ujarku semangat
“memang ada apa? Wow…sinarnya terang dan indah. Ra sering lihat ini?” Tanya Fahri
that’s right” ujarku
“Oh ya Ra, nanti sore kita ketemuan di taman kemaren ya. Bisakan!”
“Ok Fahri”
♥♥♥
Aku sibuk memikirkan bagaimana cara minta izin kepada Ayah agar bisa ketemu dengan Fahri. Akhirnya aku mendapatkan cara.
Aku bertemu Ayah diruang keluarga ketika ayah sedang baca buku-buku islam. Inilah buku-buku kesukaan ayah.
“Yah, Ayra mau keluar sebentar” ujarku
“Kamu mau kemana sore-sore gini?” Tanya ayah sambil menoleh kearahku
“Aku mau cari buku motivasi Yah”
“Pergi sama siapa?”
“Sama Bella, boleh Yah?” kataku berbohong. Didalam hati aku berkata “maafkan Ayra, Ayah. Kali ini saj, Ayra tidak akan mengulanginya lagi”
“Boleh, tapi kamu sudah shalat ashar kan!” ucap Ayah tegas
“sudah dong Yah. Makasih Yah, Aku pergi Yah. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”

Beginilah meminta izin kepada Ayah kalau aku mau keluar atau hang out. Ayah hanya akan memberi izin kalau aku pergi dengan Bella. Menurut Ayah, Bella adalah anak yang baik dan sopan. Ayah juga sudah lama mengenal Bella karena Ayah sahabatan dengan Papa Bella . Ayah tentunya sudah mengetahui karakter Bella.
“yes..”kataku melangkah pasti. Didalam hati aku berkata” maafkann aku Bella karena telah berbohong dan membawa namamu”
♥♥♥
Aku terpesona melihat dia sore ini. Jantungku berdebar hebat. Debaran yang membuat aku bahagia. Dia begitu tampan dengan balutan kemeja merah yang membuat wajahnya semakin mempesona. Aah…aku sungguh beruntung karena dia telah menjadi milikku.
“Hai Ra” sapa nya
Aku tidak mendengar sapaannya. Aku masih terpaku melihat keindahan Tuhan menciptakan makhluk seperti dia. Aku sungguh speechless  dibuat nya. Wajahnya yang angkuh diperindah dengan alisnya yang tebal, sorot matanya yang tajam, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Apalagi rambut harajuku nya yang menambah kesempurnaan wajahnya. Dia sungguh tampil beda hari ini. Mungkin dia mau memberikan yang terbaik saat kencan pertama kami. Aku tersenyum. 
“Ayra” Dia mengibaskan tangannya diwajahku dan membuat aku tersadar dan segera aku mengalihkan pandanganku dan menunduk
“eh ya, Ri ngomong apa tadi?” Ucapku berusaha enjoy
“Ra kenapa bengong?”
“Mmm, nothing.  Forget it”jawabku tersenyum
“Oh ya Ri, besok jadi berangkat ke Padang kan! Kira-kira jam berapa Ri?”
“Sekitar jam sembilan Ra”
“Berarti kita tidak bisa ketemu lagi” ucapku lemas
“Kita masih bisa ketemu saat libur semester, ya kan!
“Oh iya ya tapi liburnya kan hanya dua minggu Ri. Itu pun sekali dalam enam bulan kan!”
Ingin rasanya aku hentikan waktu agar dia tidak jadi pergi dan tetap bersamaku dikota ini.
“Oh ya Ri, kamu mau mengambil jurusan apa setelah lulus SMA?”
“Kedokteran tapi aku kurang yakin bisa lulus Ra”
Kali ini aku kaget. Aku pikir dia bakal mengambil jurusan bahasa inggris, ternyata bukan. Huufth…Aku kecewa tapi aku berusaha menyembunyikan perasaan kecewa dengan memberinya semangat.
“Kenapa mesti pesimis gitu. Ra yakin Fahri bisa lulus”
“thank’s ya Ra atas dukungannya”
“Sama-sama Ri” jawabku semangat
“Oh ya, Kalau Ra mau mengambil jurusan apa?”
“Pendidikan Bahasa Inggris di Padang, bagaimana menurut Fahri?” Tanyaku
“Bagus tapi kenapa Ra mau mengambil jurusan bahasa inggris bukannya sekarang jurusan Ra di SMA, IPA. Aku kira Ra bakal mengambil jurusan yang eksakta seperti matematika atau yang berbau science gitu
“Ini semua kan agar aku bisa berkomunikasi dengan kamu tentunya menggunakan bahasa inggris. Bahasa yang kamu suka dan karena aku suka banget sama kamu” tentu saja kata-kata ini hanya tersimpan dihatiku
“Karena aku pengen jadi dosen bahasa inggris and go around the world
it’s great dream Ra. Aku suka impian kamu Ra” katanya memuji
“thank’s” aku hanya tersenyum mendengar pujiannya
“Besok hati-hati ya dan jangan lupa kasih tau aku kalau kamu sudah tiba di Padang”
“Ya Ayra” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang aku rindukan kalau nantinya kami berjauhan. Aku sedih karena ini adalah pertemuan terakhir. Aku tidak tau kapan lagi bisa ketemu dengannya.
♥♥♥
Didalam kamar yang penuh dengan bintang-bintang yang selalu menemani aku tidur. Aku cuma bisa berdiam. Aku sedih membayangkan kami akan berpisah. Aku takut dia tidak bisa setia dengan cintaku karena disana akan banyak gadis-gadis cantik. Apakah dia bisa bertahan. Aku lemas membayangkan itu semua. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Lagian setelah lulus SMA nanti aku akan menyusulnya.
Ternyata hari yang tidak aku harapkan datang juga. Aku tidak sempat ketemu dengannya. Aku hanya bisa melihat travel carnya melewati jalan didepan rumahku. Dia tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya. Dadaku terasa sesak tapi ada terselip kebahagian juga didalamnya. Kebahagian karena aku bisa melihat senyumnya.
Aku berusaha mencari kesibukan dengan membantu pekerjaan ibu didapur dan sekali-kali melirik kearah HPku kalau-kalau Fahri nelpon aku. Jadi HP aku letakkan diatas lemari es. Ibu heran melihat tingkahku. Aku hanya tersenyum agar ibu tidak curiga. Sampai malampun Fahri juga belum menghubungi aku. Aku jadi khawatir. Aku beranikan menelpon untuk memastikan keadaannya. Tapi tidak ada jawaban dari sebrang sana. Aku tertidur menunggu telpon dari nya.
♥♥♥
            Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke sekolah lagi. Aku sedikit kurang semangat karena aku mengkhawatirkan Fahri. Sampai pagi ini pun, Aku masih menunggu telpon darinya. Tapi aku berusaha menyembunyikan kekhawatirkan ku agar Bella tidak curiga dengan perubahan sikapku. Bisa-bisa nanti dia tidak bisa menikmati traktiranku. Aku senang melihat Bella yang sangat lahap memakan baksonya. Dia selalu bersemangat diajak makan apalagi yang nanya nya gratisan. Katanya “gratisan itu enak Ra, hehe…”.Tanpa sadar Bella dari tadi juga memperhatikanku dan bertanya
“Ra kenapa? pagi-pagi sudah melamun, apa ada masalah lagi?” Tanya nya mengakhiri makannya.
nothing, Oh ya, katanya kamu mau mendengar ceritaku” kataku mengalihkan pembicaraan. Aku langsung menceritakan semua yang telah terjadi sore kemaren. Bella gembira karena dia juga turut andil dalam misi penembakan ini. Tapi aku merahasiakan kekhawatiranku kepada Fahri.
“kamu hebat Ra, aku saja belum tentu bisa seperti kamu” ucap Bella memujiku
“Oh ya, bagaimana kalian ketemuan? Ayah kamu pasti tidak akan mengizinkan kamu pergi berduaan dengan Fahri. Apalagi kalian tidak berada di sekolah yang sama. Akan sulit bagi kalian untuk bertemu. Fahri sekolah di Padang sedangkan kamu di Pekanbaru. Berarti libur sekolah saja kalian bisa ketemuan. Itupun kalau kamu diizinkan keluar oleh Ayahmu”
“Ya seh Bel, tapi kemaren aku berbohong kepada Ayah agar bisa bertemu dengannya. Maaf ya Bel kemaren aku membawa nama kamu”
it’s no problem asalkan kamu senang tapi jangan di ulangi nya lagi karena aku takut ketahuan, Bisa-bisa Ayahmu tidak percaya lagi sama aku.
”Ya Bella imut” ujarku mencubit pipi chubby nya
“Fahri sudah di Padang kan sekarang!”
“aku tidak tau Bel” aku kecoplosan menjawab pertanyaannya
Why? apa dia belum menghubungi kamu?”
Aku hanya menggeleng tak bertenaga.
“Coba kamu duluan yang menghubungi dia”
“sudah Bel tapi tidak ada jawaban”
“Mungkin saja dia ketiduran karena capek. Coba hubungi dia sekarang”
“Ok…”
Aku mengikuti saran Bella. Beberapa detik kemudian baru ada jawaban. Aku tersenyum kearah Bella.       
“Diangkat Bel, aku kesana bentar ya. Kamu duluan aja ke kelas nanti aku nyusul kalau guru sudah masuk kasih tau aku ya” ucapku girang
“Hai Fahri”
“Hai juga Ayra”
“kamu baik-baik saja kan! Kamu sudah di Padang kan sekarang? Kenapa tidak menghubungi aku padahal kamu sudah janji?” kataku dengan pertanyaan bertubi-tubi
“Maaf ya Ayra. Kemaren aku kecapean. Oh ya, Kamu tidak sekolah. Pagi-pagi sudah nelpon aku” Ucapnya
“Ini kan gara-gara kamu, aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu” kataku merenggut
“Ya Ra, maafin aku ya. Ya sudah sana masuk kelas nanti telat lho.
“Ok Fahri”
Klik…tut…tut…
Ah benar apa yang kupikirkan kemaren. Dia tidak menghubungiku karena dia kecapean. Berarti aku harus selalu berpikiran positif sama dia karena orang yang saling mencintai itu harus saling percaya satu sama lainnya. Kuhembuskan napasku dan merasakan udara segar masuk. Aku merasa  matahari tersenyum kepadaku seakan tau perasaan bahagiaku. Aku kembali ke kelas dan  belajar dengan semangat apalagi pelajaran pagi ini bahasa inggris. Aku sungguh senang sekali.
♥♥♥
Setelah hampir satu bulan menjalani hubungan dengan Fahri. Komunikasi kami masih belum lancar. Dia jarang sms aku duluan. Malahan aku duluan yang sering mengirim sms padanya walaupun cuma say hi. Dia balas sms ku dengan singkat. Awalnya aku berpikir itu tidak jadi masalah. Aku berpikir dia pasti sibuk dengan tugas sekolah dan kegiatannya karena aku tau dia juga termasuk siswa aktif di sekolah. Jadi mungkin saja sulit baginya menghubungi aku. Tapi lama kelamaan aku sedih dengan semua ini. Cinta yang aku harapkan bukan seperti ini. Aku jadi meragukan cintanya. Apakah cintanya kepadaku hanyalah cinta kasihan karena aku pernah menjadi temannya waktu kecil. Sungguh bukan cinta seperti ini yang aku harapkan. Aku sering melamun di sekolah maupun di rumah. Ternyata Bella menangkap perubahanku. Dia heran melihatku. Teman-temanku yang lain juga heran melihat perubahan sikapku. Aku yang dulunya selalu semangat mengikuti pelajaran sekarang malah diam tanpa kata.
Ketika jam istirahat Bella menghampiriku dan menanyakan perubahan sikapku. Lalu aku menceritakan semuanya kepada Bella. Dia kasihan melihat aku dan dia berkata kepadaku bahwa aku harus meyakinkan diriku bahwa cintanya bukanlah cinta palsu.
“Kalau benar cintanya adalah cinta palsu langsung saja kamu putuskan dia” ujar Bella dengan nada suara meninggi. Aku hanya mengangguk mendengar pernyataan Bella.
Lalu malamnya aku beranikan diri menelpon Fahri. Aku  mendengar dia mengangkat dengan nada suara masih ngantuk karena aku menelpon hampir tengah malam. Aku takut nanti membangunkan Adekku karena kamar kami bersebelahan.
“hallo Fahri”
“Ya Ra, ada apa? Kok nelpon tengah malam gini?
“maaf ya Ri kalau aku ganggu waktu tidur kamu. Aku cuma mau memastikan tentang hubungan kita. Aku ragu dengan sikap kamu. Kamu jarang mengirim sms kepadaku apalagi menelponku.
“Kenapa kamu tanya seperti itu Ra?”
“aku butuh jawaban dari kamu Ri? Do you really love me or not??” suaraku mulai meninggi
“Ayra kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku mengiyakan ketika kamu say your love.
“O gitu ya”
Aku terbaring lemas dikasurku. Aku tidak mengira dia akan berkata seperti itu padahal aku berpikir kalau dia juga mencintaiku. Dari kata-katanya bisa kulihat bahwa dia tidak mencintaiku. Mungkin alasan dia menerima cintaku adalah karena dia tidak mau melihat aku kecewa. Aku berkata lirih kepada diriku sendiri.
“Kamu kenapa bodoh gini Ra, Apa mata hatimu sudah dibutakan oleh cinta” aku heran melihat diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa membaca matanya saat dia menerima cintaku. Biasanya kan mata tidak bisa berbohong.
♥♥♥
Memasuki bulan kedua hubungan aku dengannya. Sikap Fahri tidak juga berubah. Malahan sekarang dia tidak ada menghubungiku sama sekali. Aku semakin yakin bahwa dia hanya kasihan kepadaku bukannya cinta. Oh betapa malangnya aku ini. Setiap pulang sekolah aku selalu mengunci diriku didalam kamar. Nilaiku di sekolah juga berantakan. Aku bingung harus berkata apa kalau Ayah dan Ibuku nanti menanyakan hal ini. Huuu…Rasanya aku capek begini terus. Aku harus bangkit lagi dari keterpurukanku. Tiba-tiba hp ku berbunyi, ternyata ada sms masuk. Aku terperanjak ternyata yang sms adalah Fahri, ada kebahagiaan terpancar dari mataku tapi isi sms nya diluar dugaanku.
“Ayra, maaf ya. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Aku tidak bisa long distance. Kalau Tuhan menakdirkan kita berjodoh kita pasti dipertemukan lagi”


Berarti ini adalah jawaban dari semua pertanyaanku atas sikapnya. Aku tau bahwa long distance hanyalah alasan yang dibuat-buatnya. Aku yakin kalau dia benar-benar mencintaiku dia pasti bisa long distance karena cinta itu tidak pernah mmengenal jarak. Dengan berusaha tegar aku membalas smsnya.

“ya Ri, gak apa apa kok. Terima kasih ya kamu sudah mau menjadi cowokku. Walaupun hanya sebentar tapi bagiku itu sudah cukup. Terima kasih atas semuanya”

Lalu aku matikan HPku dan menangis tersedu-sedu. Lalu hujan turun ketika aku menangis seakan hujan mengerti akan kesedihanku. Kesedihan yang begitu pahit karena baru saja aku merasakan cinta. Sekarang cinta itu pergi begitu cepatnya. Aku tidak habis pikir kenapa dia setega ini kepadaku. Aku benar-benar tidak bisa mengerti dengan semua ini apalagi cintaku yang sangat tulus kepadanya. Pada saat aku masih menjadi kekasihnya. Begitu banyak cowok-cowok yang menyatakan cintanya kepadaku. Karena aku merasa telah memiliki dia jadi tidak mungkin aku menduakan cintanya. Walaupun ada juga godaan yang datang untuk mendua. Tapi pikiran itu langsung kubuang. Aku benar-benar yakin bahwa dia akan selalu bersamaku. Tapi kenapa sekarang jadi begini. Aku kembali menangis tersedu-sedu.

Tok..tok…
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku kaget dan segera pergi ke toilet untuk mencuci muka. Setelah yakin tidak ada bekas airmata lalu aku membuka pintu.
“Kak kenapa, kok matanya sembab gitu? Apa kakak nangis?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Dhafi tapi aku langsung menangis dipundak kecilnya. Walaupun aku dan Dhafi sering berantam ternyata dia sangat menyayangiku. Dibalik sikapnya yang usil ada kelembutan dimatanya. Bodohnya aku, kenapa baru sekarang aku menyadari hal itu.
“Kakak tidak apa-apa Dek” kataku seraya menutupi masalah yang sedang ku hadapi. Aku tidak mau dia mengetahui aku menangis karena cinta. Apalagi dia masih kecil. Dia pasti belum paham tentang cinta.
“Apa kakak tadi mendapat nilai jelek disekolahnya” katanya
Aku tidak menjawab pertanyaan polosnya. Aku malah tersenyum mendengarnya. Aku jadi berpikir mungkin bagi Dhafi kesedihan yang fatal adalah disaat dia tidak bisa mendapatkan nilai bagus disekolah. Oh Dhafi, kamu benar-benar masih sangat lugu.
“berarti kakak harus lebih rajin lagi belajar seperti yang sering dikatakan ayah. Jadi sekarang kakak tidak perlu sedih lagi”
“Ya adekku” kataku sambil mengacak rambutnya
“karena kakak sudah bisa tersenyum lagi, kakak mau kan membuatkan aku mie goreng sebagai balas jasa karena aku telah berhasil menghibur kakak”
“Dasar….ternyata kamu punya otak mafia juga”
“Ya iyalah aku kan adeknya kakak. Masih ingat tidak, ketika kakak menyuruh aku minta duit kepada ibu untuk dibelikan es krim padahal kakak cuma memeriksa hasil PR ku dari sekolah”
“Okelah kalau begitu”(seperti lagu warteg boys saja, hehe)
Kataku sambil tertawa bareng dengan Dhafi. Dhafi menemani aku masak didapur.
“Tapi janji ya jangan katakan kepada siapapun kalau tadi Dhafi lihat kakak menangis” ujarku
“siip boss”
♥♥♥
Diluar masih gerimis tapi perasaanku sudah bisa dikendalikan apalagi ketika aku mengingat ucapan ayah ketika kami lagi makan malam bersama.       
“Ayra, Ayah harap kamu tidak terjebak dalam percintaan remaja zaman sekarang. Kamu tau kenapa? Ayah melihat anak zaman sekarang banyak mengikuti hawa nafsunya saja dan tidak memikirkan akibat dari apa yang mereka lakukan”
“maksud ayah? Ayra kurang paham” Tanyaku bingung
“ Remaja sekarang banyak yang nikah muda padahal mereka belum siap berumah tangga apalagi sekolah mereka menjadi korbannya. Ini terjadi karena ketidak tahuan mereka dalam mengendalikan cinta dan perasaan mereka. Akhirnya masa depan menjadi korban. Apabila suatu saat cinta menghampiri kamu. Ayah harap kamu bisa mengendalikannya.”
“Ya Yah tapi cara mengendalikan cinta itu bagaimana Yah?”
“Apabila cinta datang. Alihkan rasa cintamu dengan mencintai Allah. Hadapilah dia dengan bijak dan jangan terlalu mendewakan perasaan cintamu”
♥♥♥
Mulai sekarang aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan mulai mencintai Allah dan bijak dalam mencintai makhlukNya. Tiba-tiba aku ingin ketemu ayah lalu aku segera mencari ayah. Ternyata ayah lagi duduk bersama ibu diruang keluarga. Aku yakin Dhafi pasti sudah tertidur pulas dikamarnya karena sekarang sudah jam sembilan lewat limabelas menit. Sedangkan waktu tidur Dhafi adalah jam sembilan. Aku dan Dhafi selalu diajari Ayah untuk disiplin memakai waktu. Aku terdiam sebentar melihat kearah orangtuaku. Tanpa terasa airmataku mengalir. Segera kuhapus dan aku menghampiri mereka dan duduk disamping ayah.
“Ayah terima kasih atas semua didikanmu kepada Ayra” kataku kepada ayah seraya memeluknya. Tanpa terasa airmata ku meleleh. Ayah terkejut dan bertanya kepada Ibu.
“Bu, ada apa dengan anakmu yang satu ini?” Tanya Ayah kepada Ibu
“Ada apa Ayra?” Tanya Ibu lembut
“Tidak ada apa-apa kok Bu, Ayra cuma mau berterima kasih saja kepada Ayah”
“Hanya berterima kasih kepada Ayah, Ibu jadi cemburu.” Ucap Ibu tersenyum. Aku hanya diam dan berusaha mengumpulkan kekuatan.
“Ayra, Ibu lihat ada sesuatu yang sedang Ayra sembunyikan. Betul itu Nak, perasaan seorang ibu tidak bisa kamu bohongi. Ayo Ayra katakan kepada Ibu dan Ayah. Mungkin Ibu dan Ayah bisa membantumu”
Aku terdiam mendengar penuturan Ibu. Aku berpikir sejenak berharap bisa mendapat kata-kata yang tepat untuk mengatakan yang selama ini membuat aku merasa bersalah tapi apa aku bisa? Sebelum berbicara aku menatap wajah Ayah dan Ibu bergantian agar keraguan itu sirna. Aku membaca basmallah didalam hati dan mulai berbicara.
“Ayah, Ibu, Ayra mau jujur tentang apa yang mengganggu pikiran Ayra selama ini. Sebenarnya Ayra telah berani melanggar nasihat Ayah dan Ibu…” Aku berhenti sejenak untuk mengumpulkan keberanian. Kulihat lagi wajah Ayah dan Ibu, ada penasaran didalamnya. Tak sanggup aku melanjutkan, airmata ku keluar tanpa ku sadari. Ibu segera memelukku dan berkata dengan lembut.
“Ayra kenapa sayang? Nasihat apa yang telah Ayra langgar?”
“Ayah, Ibu,…maafkan Ayra, Ayra telah berbohong ketika Ayra bilang Ayra mau pergi dengan Bella ketika libur semester. Sebenarnya Ayra pergi dengan Fahri.”
“Apa? Fahri? Maksud kamu, kamu…” kata Ayah terkejut
“Ayah biarkan Ayra berbicara dulu”ujar Ibu menenangkan Ayah
“Ya Yah, Ayra kemaren janjian sama Fahri ditaman. Ayra tau Ayra telah mengkhianati kepercayaan yang Ayah dan Ibu berikan kepada Ayra. Tapi Yah, Ayra juga mau merasakan jatuh cinta dan memiliki pacar seperti teman Ayra di sekolah. Apa Ayra salah Bu?”
“Ayra jatuh cinta itu tidak salah salah sayang. Yang salah adalah cara Ayra memaknainya. Ayra boleh merasakan cinta tapi tidak dengan pacaran. Ayra masih ingat kata-kata Ayah kalau pacaran hanya boleh setelah menikah. Pacaran itu banyak mudharatnya sayang seperti kamu malas belajar karena sibuk memikirkan dia, dan sering melamun jadinya. Cinta yang Ayra rasakan sekarang ini hanyalah cinta semu. Kalau Ayra mau cinta Ayra abadi, serahkan cinta itu seutuhnya kepada Allah. Dengan begitu Ayra akan lebih mudah memaknai dan bersikap dikala cinta itu melanda Ayra. Ayah dan Ibu sangat berharap Ayra bisa fokus untuk sekolah dan kuliah dulu. Setelah waktunya tiba, cinta itu akan datang dengan sendirinya”  kata Ibu mengakhiri nasihatnya. Aku hanya mengangguk
“Ayah, Ibu maafkan Ayra ya. Ayra tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Ayra berjanji kepada Ayah, Ibu dan diri Ayra sendiri untuk mencapai cita-cita Ayra dulu dan bisa membahagiakan Ayah dan Ibu. Dan untuk urusan cinta, Ra akan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt. Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu. Ayra akan berusaha mewujudkan impian Ra. Ayra sayang Ayah dan Ibu ” airmata ku kembali mengalir.
“sini Nak, Ayah bangga padamu walaupun kamu sempat membuat Ayah kecewa tapi karena keberanianmu. Kecewa itu sirna. Ayah percaya, pengalaman ini akan membuatmu lebih arif lagi memaknai hidup. Tujuan Ayah mendidik kamu dan Dhafi sedikit keras agar kalian tidak mensia-siakan masa remaja kalian” kata Ayah sambil mengusap kepalaku.


Mendengar penuturan Ayah, airmataku semakin deras karena aku telah berburuk sangka kepada Ayah. Baru sekarang aku merasakan kebenaran dari apa yang ayah ajarkan kepadaku. Walaupun awalnya aku memberontak dengan semua larangannya. Tapi setelah pengalaman ini aku sadar akan satu hal bahwa semua perkataan ayah dan Ibu benar adanya. Mungkin inilah dari akhir cerita cintaku. Walaupun cinta pertamaku berakhir tidak seperti yang kuharapkan. Tapi aku tetap bersyukur karena aku telah banyak mendapat pelajaran berharga dari semua ini. Aku yakin Allah mau menunjukkan kepadaku atas semua kekeliruanku selama ini dan mungkin Allah mau menjagaku dari segala keburukan yang akan terjadi kalau hubunganku dan Fahri masih berlanjut.
“Terima kasih Allah” ucapku penuh hikmat.
Aku yakin akan satu hal bahwa cinta tak selamanya indah, cinta juga bisa membawa duka. Tapi bagiku, cinta yang kualami tak akan pernah kusesali karena cinta ini membawa hikmah buatku. Tanpa kusadari, Aku telah menyukai bahasa inggris dengan tulus. Walaupun hubunganku dengannya telah berakhir tapi rasa cintaku kepada bahasa inggris tidak akan pernah pupus. 
♥♥♥

5 komentar:

  1. haii dian, assalamualikum,,

    mau kah berteman dengan ku,??
    mau kah jadi teman ku untuk sharing ??

    :)
    my name's riza :) nice to meet you....

    BalasHapus
  2. kiyen akh....
    ajarin cara buat na dunkkkk.....:)

    BalasHapus
  3. mampir ke blog sya ya ukh :)

    BalasHapus
  4. Apa Sih Untungnya Program In4Link Buat Saya ?
    1. Tabungan Buat Masa Depan Anak Entah Nanti Buat Apa, Buat Kuliah Buat Modal Usaha Yang Penting Saya Sudah Persiapkan.
    2. Ada Proteksi Buat saya Minimal 21 Juta
    3. Ada Potensi Penghasilan
    4. Prestige, Saya Mitra Tugu Mandiri mempunyai Kantor Yang Tersebar di Kota Besar Seluruh Infonesia.
    5. Simple Mau Paruh Waktu Atau Profesional Tidak Mengganggu Profesi Kita Sebagai Mahasiswa Karyawan Ibu Rumah Tangga PNS atau lainnya.

    Masih Menjadi Biasa? atau Luar Biasa?
    Mudah
    Cukup NABUNG, Jalani Hidup dan Ingatkan Semua Orang pentingnya Menabung.
    Tidak ada yang Susah.
    Sabar dan Tak Lupa Berdoa. Pada Waktunya Riski Khan Tiba.
    Itulah yang Saya Alami dan Lakukan.
    MAU

    Untuk info lengkap silahkan hubungi :
    ARIX VAIDIKA
    PH/WA/SMS : 087861885449
    PIN BBM : D3447540
    http://www.in4-link.com/infosukses

    BalasHapus